Langsung ke konten utama

Melodi Antara Kita

BAB 1

Awal Yang Tidak Terduga


Lahir sebagai anak tunggal dari keluarga sedeharna, Tama Dirgantara tumbuh dibawah asuhan ibu yang bekerja sebagai guru dan seorang ayah yang seorang mekanik. Dari kecil, ia sering diajak ayahnya memabantu memperbaiki kendaraan, yang secara tidakk langsung membentuknya menjadi seorang yang teliti dan problem-solver. Selain itu, Tama memiliki kegemaran bermain basket sejak usia delapan tahun, berkat pengaruhn pamannya yang seorang atlet profesional. Hobi ini tidak hanya memebawanya pada berbagai kejuruan tetapi juga membentuk disiplin dan ketahanan mentalnya. Namun, di balik kesibukannya, Tama adalah remaja biasa yang gemar mendenarkan musik indie dan bermain gitar di waktu luang, menciptakan lagu-lagu sedehana sebagai bentuk pelarian dari rutinintas sehari-hari. Sebagai siswa kelas XI di SMA Nusantara, di dikenal sebagai sosok yang cerdas, atletis, dan memiliki senyum yang mampu membuat banyak siswi berdebar. Tapi Tama tidak pernah merasa dirinya istimewa. Baginya, sekolah hanyalah tempat untuk belajar dan mempersiapkan masa depan.

Namun, pagi itu berbeda. Di lorong menuju kelas, ia bertemu dengan Nara Kirana, seorang siswi baru yang pindah dari jakarta. Nara memiliki aura yang membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Tama. Gadis itu memiliki rambut hitam panjnag yang selalu tergerai rapi, serta senyuman yang sekaan mampu menghapus segala kekhawatiran dunia.

"Hai, Tama, kan?" sapanya dengan suara lembut

Tama terkejut. Dia tidak menyangka seorang siswi baru mengenalnya. Dengan sedikit gugup, dia menjawab,

"Iya, aku Tama. Kamu pasti Nara, siswi baru itu, kan?"

nara mengangguk. "iya, aku dengan banyak tentang kamu. Katanya, kamu atlet basket terbaik disekolah ini."

tama hanya tersenyum kecil, merasa canggung. Obrolan singkat itu menjadi awal dari perkenalan mereka. Sepanjang pelajaran hari itu, pikiran Tama terus melayang pada sosok Nara. Meski baru saja bertemu, ada sesuatu yang membuat Tama merasa nyaman saat bersamanya.

Sore itu, Tama memutuskan berlatih basket sendirian di lapangan dekat sekolah. Di baawah langit sore yang berwarna jingga, ia fokus memperbaik lemparan tiga angkanya. Pantulan bola menjadi satu-satunya suara di tengah keheningan, hingga suara lembut memecah konsenterasinya.

"Kamu serius banget, ya," ucap Nara sambil berjalan mendekat. Di tangannya, ia membawa botol air putih,

Tama menoleh, terkejut melihat Nara. "Nara? Kok kamu disini?"

"Kebetulan lewat, terus lihat kmau," jawab Nara sambil menyodorkan botol itu. "Minum dulu, pasti capek kan?"

Tama menerimanya dengan tangan sedikit gemetar."Makasih" jawabnya dengans senyum tipis.

Nara duduk di bangku tepi lapangan, memperhatikan Tama yang sedikit malu. "Kamu sering latihan sendiri?" tanyan.

"iya, biar fokus," jawab Tama, berusaha santai. "Tapi aku nggak nyak kamu bakal muncul disini."

Percakpan mereka mengalur dengan mudah. Dari basket hingga musik, Tama dan Nara menemukan banyak kesamaan. Nara bercerita tentang kecintaanya bermain piano, sementara Tama menceritakan kegemarannya menciptakan lagu-lagu sederhana.

"Kamu suka musik juga?" tanya Tama

"Suka banget. Aku merasa musik itu cara paling indang buat menyampaikan perasaan" jawab Nara sambil tersenyum hangat.

Sejak pertemuan itu, hubungan Tama dan Nara semakin dekat. Mereka sering berbicara saat istirahat di sekolah atau saat pulang bersama. Suata hari, Nara mengundang Tama untuk mendengarkannya bermain piano di aula sekolah. Tama duduk terpaku saat jari-jari Nara menari diatas tuts piano, menciptakan melodi yang memikat.

"Indah banget," Ujar Tama setelah Nara selesai bermain.

"Terima kasih," Jawab Nara."Aku main ini khusu buat kamu."

Tama tersenyum, merasa hatinya bergetar." kamu bikin aku pengen belajar main piano"

"kalau kamu mau, aku bisa ngajarin," balas Nara.

Seiring waktu, interaksi mereka semakin erat. Tama sering menemani Nara saat belajar di perpustakaan, dan Nara juga mulai menonton pertandingan basket Tama. Hubungan mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar teman.

Hari demi hari berlalu, dan Tama mulai meraskaan bahwa kehadiran Nara membawa warna baru dalam hidupnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behind the Badge Cerita Nyata Jadi Ketua OSIS + Tips untuk Kamu yang Mau Jadi Pemimpin

     Halo teman-teman, s iapa nih yang disini mau masuk OSIS atau bahkan mencalonkan sebagai ketua OSIS? kalau iya pas banget nih karena di blog ini aku mau sharing pengalamanku jadi ketua OSIS dari mulai wawancara, pengajuan sebagai ketua OSIS, sampai di sahkan menjadi ketua OSIS dan tips & triks buat temen temen yang beru join organisasi ini.     Nah temen-temen tau gak si aku baru masuk OSIS pas kelas 11 cukup telat memang tapi tidak mengapa karena tidak ada waktu yang telat untuk belajar, toh aku yang baru masuk OSIS bisa jadi ketua OSIS . Sebenarnya motif awal aku pengin ikut organisasi ini karena pure aku pengen ngasah skil kepemimpinan ku, makanya pas aku kelas 10 aku melakukan riset terlebih dahulu. Kalau temen-temen tau aku tuh kelas 10 orangnya benar-benar anak kelas banget yang cuman datang ke kelas untuk menuntu ilmu, bahkan awalnya aku gak ada niatan loh untuk menjadi OSIS.      Saran buat temen temen yang mau join ke organisasi s...

Routing Static Vs Routing Dinamis - Cisco Paket Tracer